Hasil Akhir Bukanlah Segalanya


Nilai akhir selalu menjadi patokan di berbagai belahan dunia dan berbagai bidang. Di Indonesia misalnya, penentuan terhadap nilai akhir begitu banyak dilancarkan dalam sistem-sistem pemerintahan, sektor industri, maupun di masyarakat itu sendiri. Seperti nilai Ujian Nasional di Sekolah Dasar (SD), Sekolah Menengah Pertama (SMP) dan Sekolah Menengah Atas (SMA), suatu pencapaian target dalam suatu perindustrian atau sektor swasta, sampai di keluarga masyarakat sendiri, selalu mementingkan nilai atau hasil akhir sebagai patokannya.

Para petinggi dalam pemerintah, sektor swasta maupun keluarga seakan-akan tidak ingin tahu proses yang telah terjadi. Mereka lebih sibuk menilai hasil akhir yang dicapai oleh si pekerja (pelajar). Mereka seakan tidak ingin melihat alasan atas hasil akhir yang diperoleh oleh bawahannya yaitu pekerja atau pelajar. Mungkin, mereka memberikan suatu target tertentu dalam suatu bidang untuk melihat hasil atau pencapaian. Dalam tingkat suatu ke-profesionalan dan integritas, memang diperlukan. Namun jika hasil akhir dalam target tidak tercapai dan tidak dipertimbangkan alasan mengapa nilai akhirnya buruk, inilah yang membahayakan.

Mungkin target suatu nilai akhir dapat terlaksana dengan baik. Namun, jika nilai yang mencapai target tersebut tidak diperoleh dengan jujur? Mengapa itu tidak dijadikan sebagai bagian dalam penilaian hasil akhir? Seorang yang dapat mencapai nilai UN dengan baik namun itu ia peroleh dari hasil mencontek atau kunci jawaban, mengapa tidak dimasukkan pula nilai-nilai buruk (mencontek) yang ia pergunakan dalam mencapai nilai UN tersebut dalam nilai akhirnya?

Berbeda halnya dengan seorang yang tidak mencapai nilai atau hasil akhir dengan baik. Dalam kasus UN pula, misalkan seorang siswa tidak lulus UN karena nilai akhirnya buruk. Mengapa nilai si anak tersebut dapat buruk? Misalkan karena guru-guru yang mengajar di sekolahnya tidak kompeten atau siswa tersebut dalam satu bulan terakhir sakit sehingga tidak dapat masuk sekolah dan tertinggal pelajaran. Alasan mengapa siswa tersebut tidak lulus seharusnya diperhitungkan dan ditolerir. Namun, seperti yang telah dikatakan sebelumnya, para “atasan”  tidak ingin melhat hal tersebut. Mereka lebih mementingkan nilai atau hasil akhir tanpa melihat proses dan/atau alasan yang rasional mengapa suatu nilai atau hasil itu baik/buruk.

Nilai akhir bukanlah segalanya. Menghargai proses dibalik hasil dengan mata kebijakan, akan membuat hasil akhir tersebut terlihat baik sekalipun nilai akhir yang diperoleh itu buruk. Nilai atau hasil akhir bukanlah segalanya, tapi nilai-nilai-lah yang membuat hasil akhir tersebut menjadi baik atau buruk.🙂

2 thoughts on “Hasil Akhir Bukanlah Segalanya

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s