Kisah Bocah Kereta Api


Pagi itu terasa sangat terik. Panasnya matahari membakar hangus kulit-kulit bisu di tubuhku. Bulir-bulir keringat keluar tanpa diperintah dari pori-pori kulitku. Kepalaku masih terasa pusing dan berat. Maklum saja, semalaman aku belum tidur karena mengerjakan tugas kampus. Kuyakin lingkaran hitam telah bercokol di kedua mataku akibat begadang tadi malam.

Stasiun Kereta Api Pondok Ranji, Bintaro, Ciputat tidak terlalu ramai. Hanya sekitar 20-30 orang yang menunggu kedatangan kereta api. Aku hendak pergi ke Tanah Abang, untuk melihat jaket temanku yang telah dipesan seminggu yang lalu. Sengaja kupilih transportasi massal kereta api. Selain murah, waktu pun terasa lebih singkat dan tidak begitu terasa melelahkan.

“Kereta datang pukul sepuluh lima belas! Sepuluh lima belas.”

Teriak seorang tukang ojek yang berdiri dekat loket. Kurasa ia sengaja berkata dengan kencang agar seantero stasiun tahu dan tidak mengganggu sang tukang ojek dengan pertanyaan-pertanyaan yang sama: kereta berangkat jam berapa ya Bang? Akupun salah satu yang telah menanyakan hal itu tadi. Sabar ya Bang Ojek.

Waktu baru menunjukkan pukul 09.50, itu artinya kereta baru akan muncul sekitar 25 menit lagi. Masih ada waktu untuk menikmati segelas kopi, pikirku. Biarlah panas-panas minum kopi, setidaknya bisa mengurangi rasa kantukku yang cukup menggila ini.

Kupesan kopi dan tiga batang rokok di warung belakang loket karcis. Setelah segelas kopi hangat telah berada di genggaman, kuambil posisi di samping loket karcis untuk menanti kedatangan sang lokomotif beserta gerbong-gerbongnya. Tempat itu kupilih karena cukup nyaman, teduh karena terlindung oleh loket karcis dan aman karena dekat dengan Pak Satpam.

Kuseruput kopi hangat ini pelan-pelan. Kunyalakan sebatang rokok. Lumayan, rasa kantukku perlahan tertimbun oleh kafein dalam kopi dan nikotin dalam asap rokok ini.

Selang beberapa waktu, tiba-tiba ada seorang bocah yang menghampiriku. Tingginya sekitar satu meter, tanpa memakai alas kaki. Pakaiannya sudah tidak berwarna merah lagi, sudah pudar. Rambutnya merah, mungkin akibat terlalu sering berada di bawah sinar matahari. Kutebak ia adalah seorang anak kecil yang sering berada di kereta api untuk menyapu atau membersihkan gerbong-gerbong kereta. Usianya mungkin seperti adikku, sekitar 10 tahun.

“Kak, jangan ngeroko. Roko kan bahaya, Kak”

Celotehnya polos. Ia berdiri kikuk di depanku yang sedang duduk.  Awalnya aku ingin mengacuhkan anak ini, karena aku sangat mengantuk, malas meladeni bocah. Tapi niatku itu kubatalkan, karena jarang sekali kutemukan seorang anak kecil berkata seperti itu kepadaku, tidak pernah bahkan. Bukankah suatu pembelajaran itu bisa diperoleh oleh siapapun? Bahkan dari seorang anak kecil. Dan, yang membuat aku penasaran pula adalah apa alasan anak itu berkata seperti itu kepadaku? Dia baru bertemu denganku kali ini, mengapa tiba-tiba timbul perkataan itu?

“Loh, memang kenapa?” Tanyaku membalas perkataan anak tadi.

“Iya kak, nanti kakak sakit. Rokok itu bahayanya besar banget. Jangan merokok, Kak”

Jujur, aku sangat heran sekali dan kagum dengan anak ini. Tidak seperti perkiraanku selama ini, ternyata seorang bocah kereta api bisa secerdas ini dan ia tidak merokok pula! Dalam pikiranku, bocah kereta api selalu diidentikkan dengan kehidupan yang keras, sampai mereka frustasi sehingga masih kecil sudah merokok dan mabuk-mabukkan. Untuk anak kecil yang satu ini adalah pengecualian dalam pikiranku.

“Iya nanti deh ya berhenti merokoknya, tanggung.” Kujawab dengan candaan ringan untuk meleburkan suasana kekikukkan ini.

“Kamu gak sekolah? Bolos ya?”

Pertanyaan bodoh. Pertanyaan yang aku sendiri mungkin sudah tahu jawabannya. Orang tua anak ini pasti tidak menyekolahkan anak ini karena kendala biaya. Namun, pertanyaan itu tetap terlontar dari mulutku, akibat kantuk yang masih mendera kurasa.

“Aku gak sekolah kak…”

Bocah itu melihat rel kereta sejenak.

“Aku mah bego, Kak. Waktu kecil aku sering dipentok-pentokkin sama bapak. Ibu juga gak punya duit buat nyekolahin aku. Buat beli susu adek aja susah, Kak.” Matanya kemudian kosong mengarah ke rel kereta.

Jawaban anak itu membuatku menelan ludah. Aku tidak meneruskan lagi pembicaraan dan pertanyaan bodohku tadi.  Takut anak itu teringat kembali akan masa kecilnya dan menjadi trauma. Kualihkan pembicaraanku ke topik yang lain.

“Nama kamu siapa?”

Ia tak menjawab. Masih melihat rel kereta yang berada  sekitar 10 meter dari tempat ini.

“Sudah makan belum? Mau jajan?” Kuajukan pertanyaan lain.

“Gak usah, Kak, duitnya aja.” Kali ini ia menjawab dengan polos.

“Yah, kalo duit gak aku kasih. Aku beliin oky jelly drink aja ya? Sama roti?”

Bukannya pelit, tapi kurasa memberi uang tanpa usaha tertentu bukan suatu hal yang baik menurutku.

“Mau gak? Kok diem?”

“Ale-ale aja Kak, sama wafer.” Celotehnya polos.

“Oke, tunggu di sini ya. Tolong jaga barang-barang kakak ya?”

Sengaja kutinggalkan rokok, koran dan ponsel di tempatku barusan. Aku ingin melihat usaha bocah ini untuk menjaga barang-barang yang kutitipkan padanya. Wafer dan ale-ale adalah hadiah atas usahanya tersebut. Aku bergegas ke warung tempat membeli rokok dan kopi tadi. Kupesan satu Ale-ale dan dua buah wafer Superman. Aku segera kembali ke samping loket setelah membeli dua jenis makanan ini.

“Ini ale-ale dan wafernya.”

Barang-barang yang kutitipkan padanya masih berada di tempatnya. Ia tersenyum senang. Dengan cekatan ia menusukkan sedotan ke gelas Ale-ale. Wafer yang tadinya terbungkus rapi kini sudah telanjang dan siap dilahap isinya oleh bocah ini. Tiba-tiba ia menatapku.

“Namaku Rahmat Hidayat Kak.” Ucapnya saat masih mengunyah wafer dalam mulutnya.

Aku tersenyum. “Namaku Adichal, Dik”

Aku mendapat Adik baru di sini. Aku dinasehati oleh seorang bocah tanpa alas kaki. Rahmat Hidayat, tetap kuat ya menghadapi kehidupan nyata ini. Suatu hari nanti, aku ingin ketemu dengan kamu kembali dan melihat polosnya kata-kata yang keluar dari mulut kamu serta senyuman ikhlas kamu, Dik.

2 thoughts on “Kisah Bocah Kereta Api

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s