The Real: Melampaui Batas-batas Subjektivitas


Di tulisan ini saya akan coba mengulas sedikit tentang The Real. Ini masih terkait hubungannya dengan teori Psychoanalisis Jacques Lacan. Seperti telah dijelaskan pada postingan saya sebelumnya, saat ini kita tengah berada dalam dunia The Subject. Dunia di mana segala hal telah memiliki kata beserta makna yang terkandung di dalam kata itu sendiri. Di mana sebuah bahasa telah mewakili sesuatu yang tampak maupun tidak tampak dan mewakili benda hidup maupun yang tidak hidup.

Pengertian The Real bertolak belakang dengan pengertian The Subject. Jika The Subject menekankan pada suatu kata serta makna dari sesuatu hal, maka penekanan The Real ialah terletak pada tidak adanya pemaknaan kata atas segala sesuatu. The Real mengibaratkan sebuah kondisi dimana batas-batas subjektivitas manusia terlampaui. Tidak ada makna yang secara pasti disimbolkan untuk menunjukkan pengertian atau pemaknaan akan sesuatu hal.

Misalkan, sebuah benda yang biasa kita sebut sorban. Seperti pemaknaan pada umumnya, sorban adalah sebuah kain yang dililitkan di kepala atau direntangkan di punggung dan biasanya dipakai oleh alim ulama. Namun, ketika sebuah sorban di pakai dan diikatkan di leher seseorang dengan pemakaian yang terbalik (bagian lebar di depan), maka sorban tersebut telah melampaui batas-batas pemaknaannya yang telah disetujui sebelumnya oleh mayoritas. Dan, ketika sebuah sorban tidak hanya dipakai oleh ulama saja, misalkan banyak dipakai oleh vokalis band, maka pengertian sorban telah melampaui batas-batas pemaknaan sebelumnya yang telah diketahui secara umum.

Dicontohkan lagi seorang laki-laki. Laki-laki adalah seorang manusia yang memiliki penis, berdada tidak menonjol, memiliki rambut yang tumbuh di sekitar bibir (kumis dan jenggot), berperan sebagai kepala rumah tangga (bekerja) dan berpasangan hidup seorang wanita. Namun, ketika ada seorang lelaki yang berperan mengasuh anak di dalam keluarganya serta tidak bekerja untuk menghidupi kebutuhan keluarganya, maka lelaki tersebut dapat dikatakan berada dalam sebuah The Real. Ia melampaui batas-batas pemaknaan yang telah disetujui secara umum. Dan, ketika seorang laki-laki tidak menyukai wanita namun menyukai sesama jenis, maka laki-laki tersebut pun telah berada dalam dunia The Real.

Apakah Ini Baik atau Buruk?

Segala sesuatu memiliki sisi baik serta sisi buruk. Sisi baiknya, kita tidak terkekang oleh kata atau bahasa. Kita menjadi manusia bebas sepenuhnya. Manusia se-manusianya (bahasa apa ini?). Tidak ada halangan yang membatasi diri kita. Tidak ada aturan, semua dapat kita lakukan sekehendak diri kita.

Sisi buruk dari dunia yang disebut The Real oleh Lacan adalah ketika apa yang kita lakukan buruk. Kita tidak terbatas, kita tidak mengikuti aturan-aturan kata. Komunikasi antar manusia menjadi terhambat karena selalu terjadi ketidak sinkronan antara arti suatu kata yang dipahami antar individu. Dan, bukankah yang melampaui batas itu selalu buruk akibatnya?

Kesimpulannya saya serahkan pilihan ingin berkecimpung dalam dunia The Real atau The Subject kepada anda. Saya tidak punya kuasa kepada diri anda untuk menentukan mana yang baik atau buruk. Anda sendirilah yang dapat menilai dan memilihnya.

😀

Link Terkait

The Subject: Sebuah Kata Telah Bermakna

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s