Bertemu Tuhan


“Brukkk..”

Bunyi bumper mobil yang menabrak pot-pot tanaman hias Papa. Tanahnya berserakan kemana-mana namun ia tidak menghiraukan hal tersebut. Pukul tiga pagi, Jay baru pulang dari tempat hiburan malam. Ia mencoba melepas stres yang akhir-akhir ini sering menyambanginya.

Ia merogoh kantong celananya dalam-dalam dan berharap kunci rumah masih ada di sana dan tidak tertinggal di meja bar seperti beberapa waktu lalu, yang membuatnya tidur di teras rumah ditemani nyamuk-nyamuk nakal.

“Pletak.. Kreekkk..”

Gesekan antara besi yang sudah tidak terselot ke kusen menggaung ke seisi rumah. Decitan pintu khas malam hari pun tak ketinggalan. Jay langsung ambruk di sofa ruang tamu. Entah berapa banyak anggur yang sudah melewati celah-celah kerongkongan Jay malam ini. Tulang-belulang sudah tak sanggup lagi rasanya mengantarkan Jay ke kamar tidur yang terletak di lantai atas.

***

“JAY! Pintu kenapa kamu biarkan terbuka semalaman!”

Teriakan Papa membangunkan Jay. Dengan kepala yang masih pusing dan jiwa yang belum menyatu dengan raga, Jay membuka matanya pelan-pelan.

“Berisik, urusin aja tuh pelacur Papa..”

Dengan nada datar dan tanpa ekspresi, Jay langsung melengos pergi ke kamarnya.

Yang dimaksud pelacur oleh Jay adalah perempuan yang berdiri di samping Papanya pagi ini. Umurnya mungkin sama dengan Jay, masih 25 tahun. Dengan dress terusan merah mencolok menggantung sedengkul dan riasan wajah yang menor, ia nampak lebih tua 5 tahun dari umur yang sebenarnya.

“Anak kurang ajar..”

Papa Jay bergumam kecil, lalu merangkul wanita itu pergi meninggalkan rumah. Sebuah ritual yang sudah sering terjadi.

***

Di dalam kamar, Jay tidak bisa kembali tidur. Ia merasakan kehampaan dalam hidupnya. Seperti berada di angkasa luar, terdapat banyak jenis udara namun ia tidak dapat menghirupnya. Melayang-layang di udara tanpa arah dan tujuan. Sesak seperti pecandu rokok yang menelan asap puluhan batang rokok kretek ke paru-parunya. Padahal jelas sekali Ia bukan perokok.

Dari dalam dompet ia keluarkan pil-pil ekstasi. Baru saja ingin ditelan, tapi ia masih memakai rasionya. Semalam ia sudah menenggak 3 butir, jika pagi ini mengalir doping-doping di aliran darahnya lagi, ia bisa kelebihan dosis dan mati sia-sia. Ia urungkan niat menenggak pil haram tersebut.

Jay kembali dalam ruang euforia kehampaannya. Mencoba menelisik jawaban dari sudut-sudut yang ada. Papa yang tak acuh, Mama yang sudah meninggalkannya sejak remaja, tuntutan kuliah yang belum rampung, semua teraduk-aduk di dalam isi kepala Jay.

“Aaaarrrggghhhhhh..”

Ia menjanggut rambutnya sendiri dan berteriak sekuat tenaga. Benar-benar seperti adegan di dalam sebuah sinetron.

“Tuhaannnnn..”

Tiba-tiba ia sadar dan kemudian terdiam dalam sunyi. Kata yang barusan disebutkan tadi sudah lama sekali tak diucapkan. Ya, entah kapan terakhir kalinya Jay menyebutkan kata Tuhan dalam hidupnya. Ia benar-benar sudah lupa dengan-Nya.

Isi lemari diobrak-abrik oleh Jay. Mencari media yang biasa digunakan orang untuk bertegur sapa dengan Tuhan. Lemari pakaian jay memuntahkan isi perutnya. Baju, celana, jaket, ikat pinggang semua dikeluarkan paksa oleh Jay dan berserakan di lantai. Ia belum menemukan apa yang dicari.

Kedua lutut Jay bersimpuh. Sekuat tenaga mengingat-ingat di mana letak benda-benda menuju Tuhan itu berada. Matanya melihat foto di meja belajar Jay. Gambar Ia dan Ibunya yang sedang tersenyum lebar.

‘Ma, tolong bantu Jay. Jay mau bertemu Tuhan..’ Lirih Jay dalam hati, berbicara dengan bingkai yang terletak di sudut meja belajarnya. Air matanya menetes.

Jay langsung ingat, dia memiliki tempat kecil di pojok rumahnya yang tidak pernah sekalipun dikunjunginya. Dalam sekejap, Jay sudah berada di depan ruang tersebut.

“Mu-sha-la..”

Jay mengeja huruf yang tertera di tembok depan ruangan tersebut. Ia mengernyitkan dahinya, kata yang benar-benar asing.

Jay telah memasuki ruangan 6 x 6 meter tanpa pintu ini. Ada lafadz-lafadz yang baru pertama ini ia melihatnya, menghiasi dinding-dinding ruangan. Jay terpaku pada poster kotak-kotak bergambar gerakan-gerakan dengan tulisan arab di setiap kotaknya. Jay tertawa kecil saat melihat salah satu gambar orang menungging. Ia menggaruk-garukan kepalanya, bingung.

“Aha, ini dia..”

Jay mengambil kain kotak-kotak yang terlipat rapi di sudut ruangan di atas meja. Benda yang dicari-carinya sedari tadi, yang membuat ruangan kamarnya seperti kapal pecah: hancur berantakan.

Dengan percaya diri ia melilitkan kain tersebut ke lehernya, meja yang berada di sudut sudah berpindah menjadi pijakannya sekarang, ia menggantungkan kain yang terlilit di lehernya ke kayu di langit-langit ruangan. Ia mendorong meja pijakkan tersebut sejauh mungkin, memastikan ia tergantung dan tidak menapak lagi. Jay menggenggam kertas, pesan yang sudah ia persiapkan. Dalam waktu 10 menit, Jay sudah tidak bernafas.

Kertas yang digenggamnya jatuh ke lantai. Di kertas itu tertulis:

Pa.. Jay mau ketemu Tuhan, ada segudang pertanyaan yang mau Jay utarakan.  Maaf kalau Jay sering mengecewakan Papa.

                                                                                                                                                                                                Jay

bertemu tuhan

4 thoughts on “Bertemu Tuhan

  1. Ini masih tergolong “flash-fiction” ya Mas? *Imho*
    Twist ending yang nggak ketebak banget kalo di saya sih.. Kirain akan berakhir ‘sebagaimana seharusnya berakhir’ … eh ternyata :O

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s