Cinta Tanpa Alasan


Dia berlari-lari tanpa lelah. Tidak, bukan di pikiranku. Memang kau pikir aku ini remaja tanggung belasan tahun yang mudah jatuh cinta seperti monyet. Dia benar-benar lari menjauh dariku, ketika hati ini memuntahkan rasa yang dipendam. Saat kata-kata yang terucap seperti bait-bait puisi seorang pujangga homoseksual.

Remuk, lemas dan semua otot-otot di tubuh ini rasanya melemah. Sungguh sebuah tindakan yang benar-benar diluar dugaanku. Aku masih berdiri mematung di Taman Kota ini. Semilir angin dari rindangnnya pepohonan yang segar tidak pas dengan adegan penolakan ini. Ini akhir pekan yang cerah dan kau mengubah suasananya dalam sekejap.

Aku berjalan ke bangku taman yang tak jauh dari titik lokasi penolakan. Tidak terseak-seok, Aku berjalan biasa saja. Aku ini laki-laki, bukan seorang tua renta yang selemah itu. Kujatuhkan bokongku hingga mengadu dengan bangku yang terbuat dari campuran semen. Mencoba mengingat-ingat, barangkali ada perkataanku yang salah ucap.

”Sarah, sudah lama Aku menyimpan rasa ini. Rasa yang katanya bernama cinta ini Aku ingin ungkapkan kepada Kamu. Maaf, baru sekarang aku sampaikan.”

Itu kata-kata yang terucap dariku sekitar 15 menit yang lalu. Menurutku tak ada yang salah. Aku pun menatap matanya saat itu, untuk meyakinkan bahwa yang kukatakan itu sungguh benar adanya.

”Aku mencintaimu. Itu saja. Aku mencintaimu tanpa alasan. Aku mencintaimu dengan semua kelebihanmu, semua kekuranganmu, semua yang ada pada dirimu, Aku cinta.”

Itu rangkaian kalimat kedua yang aku utarakan kepada Sarah. Seingatku, dia masih membisu. Wajahnya datar, tanpa ekspresi. Seperti ada yang sedang ia pikirkan. Imajinasinya melayang entah di mana, aku tidak tahu. Aku bukan seorang mentalis yang bisa membaca isi kepala orang.

Kemudian Aku beranikan diri untuk memegang tangannya. Adegan yang sungguh sulit, sempat aku ragu untuk melakukannya. Tapi rasanya kurang jika tanpa bersentuhan. Ya, tayangan sinetron di televisi yang mengajariku.

Saat jari-jemari kami saling bertemu, tiba-tiba dia menghempaskan tanganku dan berlari. Langkah kakinya cukup kencang untuk ukuran seorang wanita. Ia seperti seekor sapi yang baru saja terbebas dari kandangnya. Sapi yang diperah setiap hari tanpa ampun dan kini telah merdeka. Aku membisu, mematung dan sangat malas untuk mengejarnya. Rasanya aku sudah tahu arti dari berlari dan menjauhnya itu. Mungkin dia tidak enak untuk mengatakan penolakan, sehingga lebih memilih untuk menghindar dan mengambil langkah seribu. Tidak perlu adegan kejar-kejaran seperti film India, kurasa.

Sudah berapa peluh yang terhembus dari mulut dan hidungku ini. Sirna sudah, hilang semua asa. Sebuah keluarga kecil, ayah, ibu dan satu anak balita laki-laki bergandengan menyusuri trek jogging dan lewat di depanku. Mereka terlihat sangat bahagia, membuat dadaku menjadi semakin sulit bernapas karena sesak. Impian berkeluarga bahagia seperti itu, dengan Sarah, ah..

Dua ekor burung gereja yang berkejar-kejaran dengan sayapnya, terbang dari dahan ke dahan, benar-benar tidak cocok dengan suasana hati yang Aku rasakan sekarang. Tuhan, berhentilah bermain-main, ini konyol. Seharusnya aku menyatakan cinta kepada Sarah di stasiun saja. Jadi aku bisa memasrahkan diriku untuk ditabrak kereta bila Sarah menolakku. Bukan di Taman Kota dan di akhir pekan yang cerah seperti ini.

Mungkin aku terlalu percaya diri untuk semua ini. Bagaimana tidak, kami sudah sangat dekat. Ia sering bercerita banyak hal kepadaku, pekerjaan, keluarga, mimpi-mimpinya. Begitu pula sebaliknya, aku dan dirinya sudah sangat sering menghabiskan waktu bersama. Jadi wajar saja jika aku berpikir kalau pernyataan cintaku ini pasti diterima. Dan, ternyata aku salah duga.

Aku tersadar, ransel Sarah masih ada di punggungku. Sial, ini berarti aku harus mengembalikannya dan berarti pula aku harus bertemu lagi dengannya. Sangat kikuk pasti, bertemu dengan seorang yang baru saja menolak cintamu. Mentah pula cara penolakannya.

Keisenganku berkecamuk, kubuka tas ransel Sarah. Tidak sopan memang, tapi keingintahuanku yang besar menyingkirkan sang etika. Di dalamnya terdapat handuk kecil, tisu basah, bedak kompak dan.. undangan pernikahan?

Undangan pernikahan itu berwarna biru, warna kesukaan Sarah. Jantungku hampir terlepas dari arteri-arteri dan siap mengucurkan banyak darah ketika melihat nama yang tertera di sampul undangan tersebut. Kepalaku berkedut keras, mataku terbelalak seperti seorang yang baru saja mendapati dirinya memenangi sebuah perjudian besar. Tapi ini berbeda, Aku bukanlah orang yang beruntung, Aku di posisi orang yang rugi bandar.

Benar, nama Sarah terukir sangat indah sekaligus membuatku geram ketika kulihat nama calon mempelai laki-laki yang bersanding di undangan itu bukanlah diriku. Roni? Aku tidak pernah mendengar nama itu. Sarah tidak pernah bercerita tentang laki-laki bernama Roni sebelumnya. Menurutku namanya tidak serasi, tidak pas, Sarah dan Roni, itu tidak memiliki rima. Ah, entah siapa bajingan ini, dia sungguh sangat beruntung.

Klimaks. Puncaknya namaku tertera jelas di bagian nama orang yang diundang. Ya, undangan itu ditujukan untuk diriku.

”Rama.. Rama..”

Suara yang sangat kukenal, suara Sarah. Dia pasti baru ingat kalau ranselnya masih ditanganku. Mungkin sekaligus ia akan mencoba jelaskan semuanya kepadaku. Ya, penjelasan yang sudah kuketahui. Dia ingin menikah dengan pria lain bernama Roni sehingga tidak bisa menerima cintaku. Dan dia akan memberikan undangan pernikahannya itu kepadaku. Sungguh mudah ditebak. Tapi aku akan berpura-pura tidak tahu, setidaknya aku telah merasa lebih kuat jika seperti ini.

Dengan cepat aku masukkan kembali undangan yang menguras emosi itu ke dalam tas Sarah.

”Maaf ya, Ram..”

Suara sarah mengisyaratkan penyesalan yang mendalam. Nafasnya belum stabil, masih terengah-engah karena habis berlari.

”Tidak apa Sar, aku paham. Aku mengerti. Maaf tadi aku membuka ranselmu dan sepertinya ada undangan untukku ya? Selamat Sar, Aku yang seharusnya meminta maaf..”

Ah, bodoh. Harusnya tidak seperti ini. Aku harusnya diam dan membiarkan Sarah menjelaskan semuanya.

”Oh, iya. Ini undangan dari Sarah. Teman SMP kita, dia menitipkannya untukmu.”

”Sarah teman SMP? Jadi itu bukan acara pernikahan kamu?”

Aku mencoba mengingat-ingat nama Sarah yang lainnya. Sarah teman SMP.

”Hahaha.. Bukan, di dunia ini yang memanggilku dengan sebutan Sarah itu hanya dirimu! Sarah ketua OSIS saat angkatan kamu dulu.”

Ah, entah siapa Sarah sang ketua OSIS itu, aku tak peduli. Setidaknya aku merasa jauh lebih lega mendengar kalau undangan itu bukanlah milik Sarah yang ada di depan mataku sekarang.

”Lalu? Kenapa kamu tadi lari? Aku pikir kamu menghindar karena sudah memiliki calon suami?”

”Hahaha.. Tadi aku ingin jelaskan ke kamu, tapi belum selesai aku berbicara kamu malah sela. Maaf Ram, tadi aku kebelet mau ke toilet. Aku benar-benar ingin pipis tadi. Maaf ya..”

TOILET? Aku masih sedikit tidak percaya dengan apa yang terlontar dari mulutnya. Dan dia melanjutkan kata-katanya. Jadi.. jadi dia bukan berlari karena menolakku?

”Mmh, soal cinta tadi.. Aku sebenernya udah lama banget menunggu kamu ngomong seperti itu. Aku ingin menjadi masa depanmu, Ram. Aku menerima cintamu dan akan memberikan cintaku seutuhnya.”

Aku kaget dan tampak seperti keledai dungu. Aku tak bisa menahan senyum. Ah, Sarah.. Aku mencintaimu tanpa alasan. Kupeluk Sarah erat dibawah bayang-bayang pepohonan rimbun yang masih menghembuskan udara segar. Keluarga kecil yang tadi melewatiku, kini berjalan sekali lagi di depan kami. Burung-burung bernyanyi riang di atas dua insan yang sedang dimabuk cinta ini. Akhir pekanku tidak jadi hancur.

cinta tanpa alasan

12 thoughts on “Cinta Tanpa Alasan

  1. Keren gan, berliku2 gitu ya endingnya meski awal masuk cerita trkesan klise. Nah, itu analogi pas lari kenapa sapi gan? Bwahahaha, ketawa gua asli : D ..terus nulis gaan!

  2. hahahahahaha……….
    ichal koplak,. harusnya sarah acungkan telunjuknya dan menempelkannya dibibir rama saat mengungkapakan kata cinta itu dan bilang..”sebentar yah, kebelet pipis”.
    wkwkwkwkw

  3. wkwkwkwk.. sumpeh yang ini ceritanya tragispun (versi prasangka Rama) gw tetep ketawa mas😀
    selain sapi, gw ketawa di bagian rima itu.
    tapi twistnya agak maksain tuh mas :p .. termaafkan karena ini romance-comedy. thumbs up d^^b

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s