Cinta Monyet


“Kurasa aku sedang jatuh cinta kepada seorang laki-laki..”

Tiba-tiba Rita berbicara sendiri di tengah kulit kacang yang berserakan.

“Kau sudah gila?”

Tika yang tidak sengaja mendengar ocehan temannya itu langsung menghampiri Rita yang tak jauh duduk darinya. Tanpa permisi, ia mengambil kacang demi kacang yang berada di genggaman Rita. Temannya itu masih terbuai dalam lamunan.

Oh iya, kacang ini adalah pemberian seorang Bapak baik hati yang kerap berkunjung ke sini dan tidak pernah absen untuk memberikan kacang. Saking seringnya, Rita dan Tika setuju untuk menjuluki bapak baik hati ini dengan sebutan Raja Kacang. Selain suka memberi kacang, ia juga benar-benar suka mengacangi orang alias cuek bebek. Dasar orang yang aneh. Kata Tika di suatu hari. Setelah memberi kacang tanpa kata-kata, Ia melengos begitu saja. Itulah kebiasaan si Raja Kacang setiap pagi. Tetapi tetap saja dua gadis ini menikmati pemberian Sang Raja Kacang itu.

Pagi ini suasana di Kebun Binatang Ragunan masih sangat sepi, belum banyak aktivitas yang terlihat. Para pelancong pun belum berdatangan. Namun beberapa pedagang sudah mempersiapkan barang-barang untuk dijajakan kepada para pengunjung nantinya. Gesekan dedaunan dari pohon-pohon yang tinggi menjulang membuat suasana di sini menjadi sejuk sekaligus mahsyuk.

“Siapa laki-laki itu?”
Tanya Tika setengah berkeliling memutari tubuh Rita.

“Dia lelaki tertampan yang ada di dunia ini. Dan baik!”
Matanya masih kosong dalam lamunan, menatap lurus ke pohon akasia yang berada di sebelah sana. Tempat biasanya sang lelaki pujaan muncul.

“Bisakah kau memberitahuku sebuah nama dan biarkan aku menilainya sendiri? Kau tidak objektif!”
Tika agak kesal dengan jawaban temannya itu. Ia menggeser tubuh Rita agar batu tempat persemayamannya bisa diduduki berdua.

“Daniel..”
Rita tersenyum manis. Sangat manis. Tidak pernah Tika melihat sahabatnya tersenyum semanis itu sebelumnya.

“Kau gila, itu tidak mungkin dan tidak akan pernah mungkin terjadi!”

“Kau iri, sayang?”
Rita kini menari-nari. Ia seperti kerasukan tubuh putri raja yang memakai gaun malam lebar dan sedang berada di lantai dansa sebuah istana.

“Iri? Kau ini semakin lama semakin mengesalkan! Asal kau tahu saja, aku juga pernah jatuh cinta kepada Daniel. Tapi apa? Dia tidak pernah menyatakan cintanya kepadaku!”

“Aku selalu dipanggil dengan sebutan ‘sayang’ sama dia. Jangan iri.”
Rita mengambil sapu lidi yang berada di sudut jeruji besi dan memeluknya seolah-olah itu tubuh Daniel. Ia benar-benar telah kerasukan.

“Daniel itu makhluk sempurna yang..”

“Yang akan menjadi pasangan hidupku nanti? Tentu saja.”
Rita menyela kata-kata Tika yang belum selesai. Ia memang cerdik, Rita tahu kalimat itu akan berakhir menyakitkan, makanya ia sela secepatnya.

“Terserah kau saja lah temanku. Tapi kalau nanti kau patah hati, sakit, dan mati, jangan salahkan aku. Aku sudah memperingatkan.”

“Kau lapar? Ada tukang tahu Sumedang tuh.”
Rita mencoba mengalihkan pembicaraan dengan menawarkan Tahu Sumedang.

Tika diam, tidak menjawab.

“Diam berarti ingin, biar kupanggil. Baaangggg!! Tahu Sumedanggg!!.. Tahu baaaaannggg!!..”
Rita berjingkat-jingkat sambil melambaikan kedua tangannya di udara. Berharap abang tahu Sumedang itu menengok dan memberinya beberapa tahu yang berada di pikulannya.

“Dasar Tukang tahu bolot.”
Rita kesal dan memanyunkan bibirnya 5 senti lebih maju dari keadaan normal.

“Kau yang bodoh.”
Secepat kilat Tika mengumpat temannya sendiri.

Rita mengacuhkan ejekan temannya tersebut. Ia mengendus-endus sesuatu yang nampaknya lebih penting dari apapun di dunia ini. Wangi parfum yang sangat Ia kenal belakangan. Beraroma kayu wosky dan aqua yang menyegarkan sekaligus macho. Ya, wangi parfum Daniel. Rita kegirangan dan mengelilingi kali buatan ini sebanyak 3 kali.

“Daniel itu bodoh, sepertimu. Mungkin kalian akan cocok. Ya, semoga.”

“Bodoh? Apa kebodohannya Daniel? Dia itu sempurna tanpa cela!”

“Dengarkan aku gadis cilik, aku pernah melihat Daniel memakai topi terbalik. Haha, terlihat sangat dungu. Sangat cocok untukmu.”

“Apa? Kau serius? Bodoh sekali dia itu. Tapi tak apa, nanti akan kuberi tahu kalau itu adalah tindakan bodoh di lingkungan kita. Mungkin dia hanya kurang pintar sedikit.”

“Terserah kau sajalah..”

Pletak, cetek, kreeekk..

Jeruji besi itu telah terbuka. Sosok Daniel telah di sana bersama ember dan sesisir pisang. Ia menggunakan topi terbalik pagi ini. Rita langsung berlari menghampirinya.

“Hai Rita sayanggg..”

Daniel menyambut Rita penuh suka cita dan dengan tangan terbuka. Ia langsung memeluk Rita erat.

“Daniel, hentikan memakai topi terbalik. Itu bodoh. Jangan memalukanku di depan Tika.”

Rita setengah berbisik ditengah pelukan Daniel. Tak ingin terdengar oleh seniornya.

“Ya, aku tahu kau lapar. Ini kubawakan pisang untukmu sayang.”

“Kau ini bodoh? Betulkan posisi topimu sekarang! Sekarang!”

“Ternyata kau bawel sekali hari ini ya. Baiklah, akan aku bukakan satu dan menyuapimu pisang, cantik.”

“Daniel!! Kau dengarkan aku tidak?”

Rita kesal dengan Daniel yang tidak juga mengerti perkataannya. Rita juga sedikit malu dengan Tika yang masih berada di batu memperhatikan mereka. Ia lalu mencakar Daniel di pipi sebelah kanan karena kesal tak dipahami oleh Daniel.

Seketika Daniel menghempaskan pelukan Rita dan menjatuhkannya ke tanah. Kemudian, dengan sigap Ia berlari menuju ke pintu jeruji dan keluar dari kandang dan mengunci kembali pagar besi itu. Ia takut kalau monyet itu menjadi semakin agresif dan menimbulkan hal-hal yang berbahaya bagi keselamatannya.

“Dasar monyet tidak punya otak!”

Daniel masih kesal akibat dicakar oleh Rita. Para pengunjung yang sudah cukup memadati kandang Rita dan Tika riuh rendah menyaksikan drama cinta monyet dan manusia tersebut. Di dalam kandang, sayup-sayup terdengar suara jerit kemalangan nasib cinta Rita.

“Uuk aa’ uuk aa’..”

9 thoughts on “Cinta Monyet

  1. Jadi mereka semuanya monyet?

    Ada koreksi teknis, gan. “Tiba-tiba Rita berbicara sendiri ditengah kulit kacang”—–> ditengah harusnya di tengah

    “membuat suasana disini menjadi sejuk” —-> disini harusnya di sini

    Kalo menerangkan sifat/benda/kerja, imbuhan “di” itu digabung (ex: ditabok, digampar, didatangi). Tp kalo menerangkan tempat dipisah (ex: di atas, di sana, di mana)

    Terus… menurut gue sih ya, ini cerpen terlalu ada pemaksaan “twist”. Pada saat masuk setting ragunan, gue udah bisa nebak makna monyet di cerpen itu. Menurut penerawangan gue, haha.,kita jgn juga terjebak kalo cerpen itu harus “ngetwits”, atau menghadirkan ending yg mengecoh pembaca. Ada banyak cerpen yg alurnya normal-normal aja, tp menyenangkan dibaca. Jd gak harus ada unsur “twist” yg mengecoh pun gue rasa sah2 aja.

    Sebabnye kalo dipaksain juga harus ada twist mengecoh, jatohnya bakal ada adegan2 gak masuk akal gitu..

    • Iya, maaf untuk imbuhan di- dan kata depan di-nya gan. Luput..

      Sebenernya sih, engg.. Kalo IQ-nya gak melati, gak cuma ngeraba yang nampak dipermukaan aja. IQ cuk? Hahahahaha..😀

      Tapi thank you Gan! Ini baru brutality!!

  2. Wow.. meski sudah ketebak di paragraf kedua tapi overall saya suka sama cerita fabel macam begini😀
    Saya suka sama inversi logika dan ‘metafora-dari-metafora’ yang jadi sentral tema di sini. Saya melihat ini seperti ejekan buat ‘cinta monyet’ nya para manusia dengan aktor pengolok-oloknya yang justru berasal dari monyet itu sendiri. Good work Mas Ichal! Ya memang begitulah potret cinta monyetnya manusia :p
    Anw, pas di bagian monyet mencakar pipi, asli saya langsung meringis -_- .. lengan saya (sering) dicakar kelinci aja sampe seminggu lebih masih ada bekasnya. gimana monyet, pipi pula ><

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s