Arok Dedes, Pramoedya Ananta Toer – Book Review


Sebuah roman mahakarya Pramoedya Ananta Toer yang satu ini memang tidak boleh terlewatkan bagi para penggiat buku. Kiprah beliau dalam menuliskan suatu budaya memang sudah tidak dapat diragukan lagi. Roman yang satu ini masih bercerita tentang penumpasan tradisi-tradisi Jawa yang diwariskan oleh Belanda, khas beliau.

Berlatarkan kerajaan Tumapel, yang dipimpin oleh seorang Sudra yaitu Tunggul Ametung. Takhta Akuwu yang diberikan kepada beliau semata hanyalah pemberian Raja Kediri. Kepemimpinan Tunggul Ametung tidak disukai oleh rakyatnya, Ia kerap merampas harta, merampok, membunuh bahkan menjadikan budak bagi para perusuh yang tidak patuh kepadanya. Terlebih lagi setelah Ia menculik Dedes, putri dari seorang Brahmana yaitu Mpu Parwu. Dalam suatu adegan, Dedes dirampas kehidupannya dan diperistrilah dia tanpa suatu restu dari ayahnya.

Ritme diawal cerita terkesan begitu lambat. Dalam sepuluh bab, separuh diantaranya menceritakan tentang masing-masing tokoh utama dengan segala latar yang terperinci. Tunggul Ametung, Dedes sang Pramesyaweri, Arok, dan Empu Gandring. Menjelang pertengahan cerita, dimulailah konflik-konflik yang membesar bagaikan kobaran api yang direstui angin ribut.

Arok muncul sebagai seorang Sudra yang memiliki keberanian bagaikan Satria dan mempunyai hati laksana Brahmana. Ia disebut-sebut sebagai titisan Dewa yang akan menggelintirkan singgasana Tunggul Ametung. Kefasihannya dalam sansekerta membuat para Syiwa maupun para Wisynu tercengang.

Irama cerita semakin menarik di bab-bab menjelang akhir. Pembaca ditarik masuk ke dalam cerita yang mengoyak jantung dan membuat nafas terengah-engah. Kejutan-kejutan cerita tidak dapat ditebak dengan enteng.

Bagaimana sepak terjang dan strategi Arok dalam memperjuangkan hak-hak rakyat Tumapel yang direnggut oleh pemimpinnya sendiri, Akuwu Tunggul Ametung? Relakah Dedes yang mengandung jabang bayi sang Akuwu dikhianati oleh tamtamanya sendiri? Bagaimana kiprah Empu Gandring selaku pemeluk Dewa Pancagana dalam menghasut tiap-tiap orang yang ingin menduduki tempat tertinggi Tumapel? Semuanya tersirat dan tersurat secara apik dalam roman Arok Dedes. Perjuangan, cinta, pengorbanan, pengkhianatan, kesetiaan semua saling melengkapi dalam naskah Tahun 1220 Sebelum Masehi ini.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s