Gadis Pantai, Pramoedya Ananta Toer – Book Review


Bagaimana jadinya apabila seorang gadis berumur empat belas tahun menikah dengan sebuah keris? Hal ini dialami sendiri oleh si Gadis Pantai, bunga kampung nelayan pantai keresidenan Jepara, Rembang. Kisah hidupnya berubah drastis semenjak itu, sampai-sampai orang tuanya pun tak “dikenalinya” lagi.

Gadis Pantai. Karya sastra pertama dari trilogi roman keluarga ini sungguh mendesir-desirkan ulu hati. Lagi-lagi Pramoedya Ananta Toer berkelakar tentang feodalisme Jawa lewat para tetingginya. Sebuah batas-batas kekuasaan, takhta, yang tak henti-hentinya dikisahkan dari awal bagian hingga akhir.

Roman ini dibagi menjadi empat bagian. Tiap bab memiliki fase tersendiri bagi kehidupan Gadis Pantai secara keseluruhan. Pembagian bab dalam jumlah yang kecil jarang sekali terjadi pada sebuah roman atau karya sastra yang memiliki cerita yang panjang. Umumnya dibagi menjadi belasan atau bahkan puluhan bab. Entah mengapa, pembagian bab yang sedikit ini berimbas pada rasa penasaran saya sebagai pembaca, untuk melahap isi dari buku ini dalam sekali duduk saja.

Bagian pertama dari Roman ini berkisah tentang latar belakang Gadis Pantai. Seorang kembang desa yang amat manis, rebutan pemuda kampung nelayan keresidenan Jepara, Rembang. Hari-hari yang ia jalani sebagai anak seorang nelayan miskin tiba-tiba berubah drastis setelah utusan Bendoro datang. Ia tak mengenal lagi dirinya yang dahulu. Tangan-tangan kasarnya berubah menjadi jari-jemari lembut titisan kahyangan. Tubuhnya tidak lagi berbau amis laut, wewangian kembang tujuh rupa kini menyerbak dari tiap langkah yang ditinggalkannya. Ia telah dinikahkan dengan sebilah keris.

Ia menjalani hari-harinya yang baru di bagian kedua roman. Mas Nganten, itulah sebutan si Gadis Pantai sekarang. Ia belajar membaca, menulis, mengaji, membatik dan memasak di dalam keresidenan. Guru-guru khusus sengaja didatangkan oleh Bendoro agar ia memiliki keterampilan.

Tentang feodalisme, sebenarnya telah diceritakan sekelebat dalam bagian-bagian awal cerita. Di bagian ketiga dan keempat, ia kian nampak nyata dikisahkan. Mas Nganten pikirannya berkembang, ia tahu kehidupannya telah dirampas. Kerinduannya menjadi anak seorang nelayan pun membuncah ketika ancaman-ancaman nafasnya sudah berada di pangkal ujung tenggorokan.

Kisah Gadis Pantai ini benar-benar indah, menarik, nyata dan menggugah nurani. Kelewat sayang untuk diacuhkan pada rak-rak lemari toko buku. Pengumpulan naskahnya pun penuh perjuangan bukan kepalang: pendokumentasian oleh Universitas Nasional Australia (ANU) di Canberra, tesis seorang mahasiswi Savitri P. Scherer, serta proefdruk-proefdruk yang tercecer belum menjadi satu kesatuan. Lebih dari 20 penghargaan dunia nampaknya menjadi alasan bahwa Roman Gadis Pantai ini memang sangat amat berkualitas dan patut untuk dibaca.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s