Veronika Memutuskan Mati, Paulo Coelho – Book Review


Veronika Siapa yang menyangka kalau gadis cantik berumur 25 tahun, memiliki karir yang cukup baik sebagai pustakawan, ingin meregang nyawanya dengan menenggak empat bungkus pil tidur sekaligus? Ya, Veronika melakukannya. Gadis muda itu bosan dengan hidupnya yang monoton, tidak ada perkembangan atau perubahan, dan stagnan! Seperti sebuah patung di alun-alun Ljubljana: sangat indah tapi tak bernyawa.

Penulis asal Brazil ini memang ahlinya dalam menorehkan kisah hidup yang tersingkap penuh makna, termasuk di dalam novel Veronika Memutuskan Mati (Veronika Decide to Dies – Judul asli, red). Halaman yang terdapat di dalam buku ini hanya berjumlah 236 helai. Entah disengaja atau tidak, novel ini tidak memiliki bab-bab yang dinomorkan. Imbasnya, pembaca ditarik paksa untuk terus-menerus menyimak cerita dalam novel ini hingga tak terasa sampai di penghujung kisah. Di bagian tulisan ke tiga, terdapat keterangan dari Paulo Coelho tentang latar belakang novel ini. Dan, yang mengejutkan adalah cerita ini diangkat dari kejadian nyata!

Veronika ternyata tidak jadi mati, atau lebih tepatnya kematian Veronika tertunda untuk beberapa saat. Seseorang telah menyelamatkan dirinya dari percobaan bunuh diri malam itu. Kebenciannya terhadap para wartawan yang tidak mengetahui letak Slovenia menjadi alibinya untuk mengakhiri hidup. Sayang, tak ada yang percaya dengan ‘surat wasiat’ yang tertinggal tersebut, terlalu konyol untuk menjadi sebuah alasan. Oleh karena itu, ia dimasukkan ke dalam Villete, sebuah rumah sakit jiwa.

Cerita dimulai dengan tempo yang cukup cepat dan tidak bertele-tele, khas Coelho. Ada bagian yang mencengangkan di dalam novel ini, ternyata sang maestro Paulo Coelho pun pernah merasakan dinginnya tembok rumah sakit jiwa (asil). Inilah yang membuatnya tertarik untuk menuliskan kisah Veronika ke dalam sebuah buku: kesamaan sebuah nasib.

Di dalam Villete, gadis cantik ini bertemu dengan orang-orang yang mengagumkan. Ia terkejut ketika mengetahui di dalam asil tidak hanya di penuhi dengan orang yang memiliki gangguan kejiwaan saja, tetapi manusia normal atau yang telah sembuh juga cukup banyak yang menetap di sana. Mereka yang tidak memiliki gangguan mental lagi, umumnya khawatir dan tidak siap bila kembali ke kehidupan masyarakat. Jadi, lebih baik hidup dalam kenyamanan asil daripada keluar dengan rasa yang tidak aman karena cemoohan orang. Beberapa penghuni tersebut diantaranya adalah Zedka, Eduard, dan Mari.

Veronika telah membawa banyak perubahan kepada tiap-tiap penghuni Villete, Dr. Igor pun menyadarinya. Dentingan piano tiap malam yang dimainkan oleh Veronika menyenandungkan melodi yang harmonis dan menarik Eduard dari ‘kegilaannya’. Mari tak menampik, Ia sendiri sadar akan pengaruh besar Veronika di asil, karena Mari adalah seorang pengacara yang handal sebelum menjadi penghuni Villete. Berlatarkan tahun 1997, saat Slovenia masih seumur jagung, membuat kita terbawa dalam suasana yang klasik namun tetap asik. Dengan tutur bahasa yang mengalir dan kemunculan konflik yang halus, Paulo Coelho berhasil membuat pembaca merenungi hakikat dari sebuah hidup lewat buku Veronika Memutuskan Mati ini.

Apa yang terjadi dengan Zedka, Eduard dan Mari ketika Veronika mulai menapakkan kakinya di Villete? Mengapa Zedka, Eduard dan Mari bisa menjadi penghuni Villete? Sampai berapa lama Veronika dapat bertahan hidup setelah menenggak empat bungkus pil tidur? Semuanya disusun secara apik dan cantik dalam novel ini. Sangat pas dibaca untuk yang merasa hidupnya monoton dan memerlukan sebuah perubahan dari dalam diri.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s