The Messenger


posKisah ini berawal dari lahirnya seorang pria kece ke dunia. Hidup dengan ketampanan yang tiada tara, keberlimpahan harta, serta kecerdasan yang melebihi Einstein. Kharisma dari lelaki ini selalu membuat orang-orang di sekitar berdecak kagum. Bukan, itu bukan saya kok.

Pada hari Sabtu, tanggal tepatnya aku lupa, seorang teman SD tiba-tiba meminta tolong untuk menyebarkan undangan pernikahannya. Namanya minta pertolongan, pasti yang bersangkutan tidak bisa atau berhalangan untuk melakukan hal tersebut. Dengan nada yang mantap serta lantang, aku mengganggukkan kepala seraya berkata, “Baiklah”. Padahal, teman SD-ku itu minta tolongnya melalui SMS.

Singkat cerita, undangan itu sudah berada di tanganku. Berwarna hijau muda yang segar sekaligus menyejukkan. Di dalamnya terdapat foto-foto pernikahan dia dan sang calon suami, sangat mesra hingga membuat bulu kudukku merinding. Ini bukan cerita serem lho ya. Undangan itu berjumlah 50 buah, tanpa nama dan tanpa alamat rumah. Dan, coba tebak, waktu pernikahan temanku itu tinggal 2 minggu lagi! Itu berarti aku harus cepat-cepat menyebarkannya sebelum pernikahan itu berlangsung. Ya, gak lucu aja kalo undangannya dikasih setelah pernikahan.

Langkah pertama adalah mendaftarkan nama-nama teman SD. Berkat bantuan seorang teman, sebut saja namanya Ope (nama sebenarnya, -red), aku berhasil mencatat dan mengurutkan seluruh nama teman-temanku dalam 1 malam saja. Sebuah prestasi yang patut diberi penghargaan. Setelah itu, nama-nama tersebut diketik dan dicetak pada label yang akan ditempelkan satu-persatu di undangan. Kegiatan ini membutuhkan kesabaran yang ekstra, layaknya dua insan yang sedang berpacaran jarak jauh.

Selesai mengetik-mencetak-menempel label nama pada masing-masing undangan, kini saatnya aku menyebarkan undangan tersebut. Dimulai dari rumah terdekat sampai dengan rumah tak berpenghuni, aku menebarkan undangan ini dengan penuh suka cita dan suka cinta. Tentu saja, harapannya agar yang diberi undangan tersebut memenuhi dan datang ke acara pernikahan temanku.

Beberapa kendala yang aku alami dalam menyebarkan undangan itu ada yang ketika dipanggil tidak menyahut, rumahnya tak berpenghuni, teman yang diundang sudah pindah rumah, panas terik, hujan badai, tapi dari semua masalah tersebut aku tetap melaluinya dengan wajah ceria dan mempesona. Sempat aku berpikir, coba ada ya undangan yang tidak perlu repot-repot seperti ini, yang lebih praktis gitu lah. Hingga pada akhirnya aku menemukan ada sebuah situs undangan digital yang bernama datangnya.com, AHA!

Namun terlambat, aku mengetahui datangnya.com baru-baru ini saja. Undangan temanku itu bersisa 10 buah, ya, karena alasan-alasan yang disebutkan di atas.

Pengalaman memang guru yang terbaik, dari sepenggal kisah yang aku ceritakan tadi semoga bisa diambil hikmahnya. Untuk menghindari hal-hal di luar dugaan yang menyebabkan undangan tidak diterima atau tidak sampai, ada baiknya kita juga membuat sebuah undangan digital yang aksesnya tak terbatas dan dapat dijangkau dengan mudah. Yap, inovasi dari datangya.com ini memang patut diacungi jempol. Sebuah undangan digital via website yang dapat sampai di manapun teman berada dan diterima oleh mereka hanya dalam beberapa kali klik saja. Dengan fitur-fitur yang menarik, datangya.com menyediakan undangan pernikahan digital lewat website yang bisa kita kreasikan dari belakang meja komputer. Hebat bukan?

Salah satu theme undangan online datangya.com

Salah satu theme undangan online datangya.com

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s