The Butler, – Film Review


Berhubung di kantor tidak ada kerjaan, baiknya gue isi dengan memperbaharui postingan blog. Tenang, gue masih inget kok sama kamu, blog ku tersayang. Muach!

Oke, kita langsung saja mengulas film The Butler. Dari artinya, kita bias cari lewat kamus atau google translate kalau The Butler adalah kepala pelayan. Jadi, dapat disimpulkan kalau film ini berkisah tentang seseorang yang pekerjaannya mencari ikan di laut. Itu nelayan! Sip, garing.

Disutradarai oleh Lee Daniels, film berdurasi 132 menit atau 2 jam lebih 12 menit ini tidak disarankan untuk ditonton pada waktu mid-night, karena anda akan tertidur pulas karenanya. Diawali dengan cerita Cecil Gaines kecil yang harus menerima kenyataan pahit kalau ayahnya, seorang afro-amerika, harus tewas ditembak oleh majikannya sendiri di perkebunan kapas, milik seorang kulit putih. Yup, berlatar tahun 1900-an, film ini mengisahkan tentang perjuangan persamaan hak antara orang kulit putih dan orang kulit berwarna. Di zaman tersebut, banyak terjadi diskriminasi di berbagai macam hal. Uniknya, The Butler menyuguhkan kita sebuah perjuangan persamaan hak tersebut dari sudut pandang si kepala pelayan Gedung Putih.

Tempo cerita terbilang cukup lambat. Cecil Gaines kecil diajarkan oleh Annabeth Westfal, ibu dari si penembak ayahnya tentang cara-cara melayani seseorang di meja makan. Berbekal dari situ, Ia merantau dari Georgia dan meninggalkan ibunya, Hattie Pearl, diperankan oleh Maria Carey, yang depresi sepeninggal suaminya. Di tengah perantauannya, Ia kadung lapar dan memecahkan jendela sebuah toko kue. Untung saja penjaganya adalah seorang kulit hitam pula, jadi Ia tidak ditangkap atau dibunuh, melainkan diberikan sebuah alamat restoran yang dapat menghidupi dirinya di rantau.

Konflik-konflik yang terjadi di film ini terasa kurang greget dan menggantung. Mungkin karena keterbatasan durasi, sang sutradara jadi memadatkannya sedemikian rupa. Bayangkan saja, film ini adalah roll back dari sejarah Cecil Gaines yang diperankan oleh Forest Withaker dari tahun 1920 sampai dengan tahun 2009. Ia melayani Gedung Putih hingga delapan kepresidenan.

Sang legenda tokoh perjuangan persamaan hak kulit berwarna pun ikut hadir di film ini. Yup, siapa lagi kalau bukan Marthin Luther King Jr. yang dimainkan secara apik oleh Nelsan Ellis. Ia bekerja sama dengan Louis Gaines, anak pertama dari Cecil Gaines dalam menekan pemerintah untuk memberlakukan undang-undang persamaan hak di Amerika Serikat. Inilah yang membuat Cecil Gaines kerap cemas dan melarang anaknya untuk ikut berjuang, karena pada saat itu, sebuah nyawa amat sangat murah untuk seorang kulit berwarna seperti keluarganya. Gloria Gaines pun, istri Cecil yang diperankan oleh Oprah Winfrey tak dapat berbuat banyak dalam hal ini.

Walaupun Louis kerap dipenjara, itu tak mematahkan semangatnya sampai titik darah penghabisan. “Kalau aku sampai mati, biarlah aku mati dalam perjuangan ini”, itu kata-katanya saat ia dilarang keras lewat telepon oleh ayahnya.

Lain ladang lain belalang; lain presiden, lain pula cara pemerintahannya. Bagi pecinta sejarah, film ini sangat menghibur sekaligus memberikan banyak pengetahuan. Hingga pada masa akhir cerita, Cecil Gaines melayani presiden Barrack Obama, seorang presiden keturunan Afro-Amerika.

the butler

Follow @adichal untuk info dan celotehan unik terbarunya.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s