Jam Dua Pagi, Aku Benci


Jam Dua Pagi, Aku Benci

Jam Dua Pagi, Aku Benci. Entah wifi sedang tak bersabahat kali ini. Tak ada sinyal. Mungkin karena tak ada matahari? Persetan. Hanya ada lingkaran biru tosca yang berputar-putar, tak tahu arah dan tujuan. Mampus saja kau sinyal!

Mas Sandi menyapu halaman kiri di depan waralaba dua puluh empat jam ini. Pasti ia benci. Bersih-bersih dini hari, setiap hari, dan hanya dibayar dengan sedikit gaji. Atau mungkin ia cinta keindahan? Membersihkan sisa makanan dan bungkusan bekas orang-orang yang gemar buang sampah sembarangan. Dengan tersenyum simpul, ia memasukkan sampah-sampah yang telah terkumpul ke dalam bak abu-abu yang memiliki dempul.

Jam dua pagi, aku benci. Seharusnya aku dapat mencari-cari artikel rujukan untuk sebuah tulisan. Namun gara-gara sinyal wifi yang sialan, pekerjaan aku pun mengalami hambatan. Sial, selalu saja ada alasan.

Nenek Mira dan anaknya Budi harus ke pasar jam segini. Membeli sayur-mayur dan lauk-pauk untuk dijajakan kepada orang-orang pagi nanti dengan gerobak hijaunya yang telah usang. Nenek Mira pasti benci, begitu juga dengan Budi. Harus berbecek-becek ria di tengah pasar, membeli ini dan itu untuk dijual kembali. Apa! Harga-harga bahan makanan mentah kenapa tak mau turun, Nenek Mira sedikit terkejut dan tersungut. Harga terus naik dan menanjak tanpa kenal lelah. Seperti ada buaya saja, sampai-sampai ia tak mau turun ke bawah. Sayang, Nenek Mira sudah kadung cinta dengan pemerintah. Apalagi Budi, ia mendapat jatah seratus ribu rupiah ketika disuruh untuk memilih sebuah nama pada pemilu kemarin oleh Pak Lurah.

Jam dua pagi, aku benci. Pukul dua belas malam nanti adalah akhir dari pengumpulan sebuah naskah lomba. Sinyal wifi berwarna biru tosca masih berputar-putar dan terus berputar. Melakukan gerakan berulang sampai aku pun yang melihatnya bosan.

Mbak Wati dan Mas Sukri tengah membereskan tenda pecel lele mereka. Sepi! Sepi! Aku benci! Kata Mas Sukri seperti Rangga dalam film Ada Apa Dengan Cinta. Hujan yang kerap turun di waktu malam membuat orang-orang malas untuk keluar dan berkeliaran. Imbasnya, penjualan warung makan pecel lele pun mengalami penurunan. Mbak Wati santai saja, ia masih memegang bedak kompak dan memoleskan spon ke wajahnya yang mulai berkerut-kerut. Melihat suaminya yang cemberut, Mbak Wati mengerlingkan matanya dan berjanji akan mengurut tubuh sang suami ketika sampai di rumah nanti.

Jam dua pagi, aku benci. Tetapi terlalu banyak cinta di mana-mana. Mereka seperti lubang-lubang bipori yang menyerap air banjir ketika musim hujan tengah menerjang. Hawa-hawa hitam dan kebencian pun terserap oleh beribu-ribu cinta yang bergelora di mana-mana.

Jam dua pagi, aku benci. Benci, benar-benar cinta.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s